Jejak Kepausan dalam Hidupku

 

                     Papa Giovanni XXIII

Jejak perjalanan hidup pernah diwarnai oleh kehadiran seorang tokoh yang begitu agung: Paus Yohanes Paulus II. Bahkan sebelum mampu mengingat apa pun, namanya sudah menorehkan jejak dalam hidup. Pada Oktober tahun 1989, ketika usia masih seumur beberapa bulan, beliau mengunjungi Pulau Flores yang baru saja dilanda bencana alam. Kunjungan pastoral itu kemudian menjadi kisah yang terus diceritakan dalam keluarga bahwa seorang Paus pernah datang membawa penghiburan dan harapan kepada umat di tanah Flores. Seolah sejak awal, hidup ini sudah disentuh oleh langkah seorang gembala yang hatinya sangat dekat dengan umat yang menderita.
                               Papa Gv. Paolo II

Tahun-tahun berikutnya pun diwarnai oleh kehadiran beliau dari layar televisi, dari cerita umat, dari keteladanan yang melintasi batas negara. Ketika kabar wafatnya tiba pada tahun 2005, terasa seperti berakhirnya sebuah era yang telah menyelimuti masa kecil hingga awal remaja.

Papa Benedetto XVI

Kemudian hadir Paus Benediktus XVI, dengan kejernihan intelektual dan wibawa teologis yang membentuk pemahaman akan iman. Pengunduran dirinya pada 28 Februari 2013 menimbulkan keheningan yang sulit dijelaskan sebuah pergeseran dalam ritme Gereja yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Lalu melangkahlah Paus Fransiskus dalam catatan sejarah. Dari awal, terasa ada kesegaran baru: kedekatan, kesederhanaan, dan kepedulian mendalam terhadap mereka yang terpinggirkan. Kata-katanya tentang Gereja yang bergerak keluar menjadi semacam kompas spiritual.

Papa Francesco

Namun apa yang terjadi pada tanggal 6–7 Juli 2013 melampaui sekadar kekaguman. Kesempatan untuk beraudiensi langsung pada 6 Juli terasa seperti sapaan yang menembus inti hati. Senyumnya yang lembut, sikapnya yang sederhana, cara beliau menyapa semua itu membentuk kesan yang tak akan pernah luntur.

Keesokan harinya, 7 Juli 2013, Misa Minggu di Basilica Sant Pietro menjadi titik balik. Dalam bangunan megah yang penuh gema doa, homili Paus Fransiskus memancarkan kedalaman yang sulit dilupakan. Ia berkata:

“Da dove nasce la missione? Nasce da una chiamata… Chi รจ chiamato da Lui lo รจ per essere inviato.”

Beliau menggarisbawahi tiga pilar misi:

“la gioia della consolazione” sukacita penghiburan yang Tuhan berikan agar dapat dibagikan.

“la croce di Cristo” pusat misi yang menolak logika kejayaan dunia.

“la preghiera” napas setiap perutusan, yang dirangkum indah: “L’evangelizzazione si fa in ginocchio.”

Kalimat-kalimat itu menetap di hati, seperti cahaya yang menuntun arah hidup.

Tahun berikutnya, tepatnya pada 27 April 2014, sebuah pengalaman luar biasa kembali hadir: menyaksikan langsung Kanonisasi Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II. Dua Paus besar dalam Gereja, dua teladan suci diangkat ke altar pada hari yang sama. Di tengah lautan umat dari berbagai bangsa, terasa betapa ajaibnya perjalanan ini: dari bayi yang hadir di dunia saat seorang Paus datang mengunjungi tanah asal, hingga dapat menyaksikan Paus yang sama dimaklumkan sebagai santo.

Ada pula kesan lain yang begitu kuat, yang datang dari Paus Yohanes XXIII. Di Basilika Santo Petrus, tubuh suci beliau disemayamkan dalam peti kaca yang terjaga dengan hening dan hormat. Melihat langsung jasadnya yang tampak utuh seorang gembala besar dari abad ke-20 membangkitkan rasa kagum dan keheningan mendalam. Seolah masa lalu Gereja berbicara dengan lembut, menghadirkan teladan kerendahan hati dan pembaruan yang pernah beliau perjuangkan. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa kekudusan bukanlah kisah jauh, melainkan realitas yang dapat dilihat, disentuh, dan dihayati.

Waktu terus bergerak. Pada 21 April 2025, kursi Paus kembali kosong, menandai peralihan besar lain dalam Gereja. Sede vacante membawa rasa duka sekaligus harapan. Untuk pertama kalinya, proses pemilihan Paus terasa begitu dekat meski hanya melalui media sosial. Asap putih, dentang lonceng, sorak Lapangan Santo Petrus semuanya hadir di depan mata, membawa nuansa sakral yang tak pernah dirasakan dalam pemilihan paus-paus sebelumnya. Teknologi menjadi jembatan spiritual yang menghubungkan dunia dengan peristiwa Gereja yang agung.

Papa Leone XIV

Ketika kemudian terpilihnya Paus Leo XIV, meski belum ada pengalaman langsung bersama beliau, sebuah kesan kuat justru datang melalui dokumen apostolik Dilexi te (4 Oktober 2025). Di dalamnya, beliau menegaskan kembali keberpihakan Gereja kepada mereka yang miskin dan terluka:

“La condizione dei poveri รจ un grido che sfida le nostre vite… e la Chiesa.” Allah, “rifugio dei poveri,” memanggil Gereja “a camminare povera con i poveri.”

Ia memperingatkan tentang “l’illusione di felicitร ” yang tumbuh dari hidup nyaman yang menumpuk kekayaan “persino a spese degli altri.” Dan bahwa perjuangan melawan kemiskinan “non sia separata da un cambiamento culturale” yang mengubah cara masyarakat memandang sesama. Visi itu terasa seperti kelanjutan dari napas Gereja yang selalu menaruh hatinya pada mereka yang paling kecil.

Melihat kembali seluruh perjalanan ini, terasa betapa luar biasanya rangkaian anugerah yang menandai hidup ini: Paus Yohanes Paulus II yang hadir di tanah kelahiran saat usia masih hitungan bulan; pengalaman bersama Paus Fransiskus yang membentuk arah batin; menyaksikan dua Paus agung dimaklumkan sebagai santo; melihat tubuh suci Paus Yohanes XXIII yang tetap utuh; dan merasakan kesakralan konklaf yang melahirkan Paus Leo XIV.

Semua itu terajut menjadi mozaik iman, sebuah perjalanan yang dipenuhi undangan lembut untuk menghidupi tiga kata yang pernah diucapkan Paus Fransiskus:

Consolazione, Croce, Preghiera

Kata-kaya yang hingga kini terus menuntun langkah dalam dunia yang selalu merindukan harapan.

✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏﹏

https://www.vatican.va/content/francesco/it/homilies/2013/documents/papa-francesco_20130707_omelia-seminaristi-novizie.html

https://www.youtube.com/live/7sni7o-uPhg?si=8-LsgsPR9wtWl9Xy

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Terbuka dari Burkina Faso: Keadilan untuk Afrika

Kasih yang Bekerja dalam Diam: Pengalaman Hidup di Komunitas OCD